Anak perempuan berusia delapan itu kembali mengerang kesakitan. Seorang pria dengan belati di tangan kanan, lagi-lagi menusuk dan menyayat tubuhnya. Dalam redupnya lampu 5 watt di balik kamar tak berpintu itu, saya yang mengintip dari sela-sela dinding, melihat darah. Yah, darah yang mengucur dari tubuh bocah malang itu. Tak ada yang bisa saya perbuat, sama seperti ratusan orang disekitarnya, termasuk puluhan polisi bersenjata lengkap.
Pria itu bertubuh tegap dengan tinggi sekitar 170 cm.
“Ayo polisi, tembak kepala saya. Saya bunuh ini anak kalo ada yang mendekat,” teriaknya berulang-ulang. Dua polisi yang berusaha menenangkan pria yang mengaku bernama Ical itu, terlihat mulai kehabisan akal. Sang penyandera tak bergeming. Malah pisau di tangan kanannya terus merobek, menyayat dan menusuk-nusuk tubuh Salma, bocah tak berdosa yang disanderanya.
Drama penyanderaan yang terjadi di sebuah gubuk reot di jalan Baiturrahman Makassar ini, berlangsung sejak magrib menjelang. Dua jam berlalu, tak ada tanda bila drama memilukan itu akan berakhir. Halimah, ibu korban penyanderaan, mencoba membujuk sang penyandera namun belum mewujudkan niatnya, ibu tiga anak itu telah terkulai pingsan.
Tentu tak akan pernah terlintas di benaknya bila hari itu keluarganya akan tertimpa musibah. Suaminya yang hanya mengandalkan pendapatan dari hasil mengayuh becak, sedang tak berada di rumah. Sebuah urusan keluarga membuat Said, suaminya, sore itu harus pulang ke kampung halaman mereka di Kabupaten Bantaeng.
Ketika tengah mempersiapkan makan malam ala kadarnya untuk ke tiga anaknya, Salma 8 tahun, Saldi 4 tahun dan Putra 2 tahun, seorang pria tak dikenal, menyambangi gubuk mereka yang terjepit di tengah rumah-rumah mewah di Kompleks Haji Kalla Makassar.
“Tolong buatkan saya kopi,” pinta pria yang tak dikenalnya itu.
Belum mencicipi suguhan tuan rumah, pria itu kembali melontarkan permintaaan kedua.
“Minta uangmu.”
“Tak ada, pak. Kami tidak punya uang. Untuk makan saja kami susah,” jelas Halimah.
Ketika rasa curiga yang menjalari dirinya mulai membuncah, apa yang ditakutkan Halimah pun terbukti. Hanya dengan sekali gerakan, pisau dapur yang ia gunakan memotong sayur, dirampas tamu tak diundang itu. Anak bungsunya yang menjadi incaran pertama berhasil melepaskan diri. Nasib naas beralih ke Salma.
Dan drama penyanderaan itu pun dimulai.
Sudah pukul 20.30 Wita tapi belum ada yang bisa saya lakukan selain mengarahkan kamera ke dalam kamar tempat di mana penyandera itu terus menyiksa korbannya.
Tangan kanan si penyadera masih mengenggam erat belati sementara sang korban nampak mulai terkulai lemas dalam jepitan lengan kirinya. Polisi sudah menyerah, tak ada lagi yang mereka bisa lakukan. Si penyandera tetap tak bergeming. Dia malah tak henti-hentinya meminta polisi menembak kepalanya.
“Ayo, tembak saya. Tembak kepala saya. Kalo tidak, anak ini saya bunuh.”
Dan saat semua sudah tak tau untuk berbuat apalagi, si penyandera tiba-tiba membawa korbannya keluar dari kamar. Beberapa saat duduk di ruang tengah yang merangkap dapur, pria itu kemudian menyeret korbannya ke luar rumah.
Tepat di depan gubuk tak berpagar itu, dia berhenti dan kembali melontarkan tantangan.
“Ayo tembak saya kalo berani.”
“Ical, sadar. Kasian anak itu. Sudahlah, lepas saja dia,” seorang polisi kembali mencoba membujuknya. Yang lain, termasuk saya dan segerombolan wartawan lainnya, memilih agak menjauh. Kami takut kehadiran kami akan semakin menyulut amarahnya.
Di saat si penyadera terus merecau dan di saat saya menduga-duga akan berakhir seperti apa drama penyanderaan ini, seorang polisi tiba-tiba menghantam wajah si penyandera dengan sebatang balok kayu. Si penyandera tersungkur. Korbannya terlepas dari pelukannya dan terjatuh berguling di tanah. Tapi hanya dengan sekali hentakan, si penyadera telah kembali berdiri dan dalam hitungan detik saja, dia telah kembali memungut belati yang sempat terlepas dari tangannya.
Bak banteng yang terluka, pria itu berlari ke arah kerumuman polisi dan wartawan di hadapannya. Pisau dalam genggamannya bergerak liar. Kerumunan pecah. Masing-masing berusaha menyelamatkan diri. Saya yang saat itu kebetulan berada dalam posisi aman, menyaksikan bagaimana lelaki itu menyeruduk siapa saja yang ada dihadapannya. Belatinya mengarah ke punggung seorang polisi. Di saat yang sama, seorang polisi lainnya menembak kakinya. Dia malah semakin beringas. Dia terus berlari. Dia terus mengayun-ayunkan belati di tangan kanannya. Dia baru tersungkur ketika polisi kembali menembaknya. Satu di kaki. Satu di punggung. Peluru terakhir menembus pinggangnya.
Setelah pistol polisi menyalak, amarah warga pun ikut meledak. Tendangan dan pukulan mendarat di sekujur badan si peyandera. Pria itu tak bergerak lagi. Tak ada rintihan. Tak ada erangan yang keluar dari mulutnya. Matanya sesekali masih terlihat terbuka, pertanda dia masih hidup. Aksi warga baru berhenti setelah polisi berkali-kali mengeluarkan tembakan ke udara.
“Semuanya mundur,” teriak polisi.
Hujan deras tak menghentikan niatku ke Rumah Sakit Bayangkara. Mobil polisi yang membawa si penyandera yang kritis, melaju kencang. Sama seperti mobil yang membawa korban, yang juga kritis. Di rumah sakit, ketika semua wartawan lainnya sibuk mengumpulkan data dan nambah stok gambar, saya memilih menjauh. Duduk melantai di pojok ruang unit gawat darurat agak meredakan letihku. Sebatang rokok ikut membantu menghilangkan rasa dingin yang mulai mengigit.
Si penyandera sejak tadi telah terbaring kaku di kamar mayat. Salma, korbannya, masih terus mengerang di ruang unit gawat darurat. Dan saya yang kedinginan, masih tetap duduk di pojok ruang unit gawat darurat Rumah Sakit Bayangkara Makassar. Tiga batang rokok telah kuhabiskan tapi saya belum menemukan jawaban, “Mengapa putri tukang becak itu yang harus menjadi korban. Mengapa bukan putri pemilik rumah mewah di samping rumah si tukang becak yang menjadi korban. Pemilik rumah yang saat tetangganya disandera hanya menonton dari lantai dua rumah mewahnya sambil terus mengepulkan asap rokok. Sesekali terbersit senyum di wajahnya, seakan-akan yang disaksikannya hanyalah secuil drama picisan yang tak bisa mengugah perhatian, kepedulian dan keprihatinannya.”
110208
aftermidnight
Fuckin’ asshole
Diposting oleh mata air
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 komentar:
Posting Komentar