Bingung…yah, hanya itu ekspresi yang bisa kutangkap dari raut wajah bocah yang kuprediksi baru sekitar lima tahun itu. Dalam dekapan ibunya, bocah lelaki itu terus menatap wajah ibunya yang sedari tadi mencoba menahan isak. Berulangkali mencoba, tak jua berhasil. Entah karena ingin terlihat tegar di hadapan anaknya, sang ibu kemudian membaringkan sang terkasih di selembar tikar plastik tipis di sisi kirinya.

Dingin sudah tak bisa teratasi lagi di Mushallah Al Ikhlas, Mapolresta Luwu, dini hari itu. Puluhan orang yang berada di sekitar ibu yang sedang dirundung duka itu, sejak tadi larut dalam mimpi. Semuanya terlihat hanya bisa menekuk badan sedekap mungkin. Tak ada selimut selain pakaian di badan yang membungkus kulit-kulit berjiwa rapuh itu.

Sang ibu terus larut dalam isak tangisnya. Air matanya kian tak terbendung lagi. Seorang wartawan yang sejak tadi mengamati si ibu, memilih mendekat. Sadar ada yang bergerak ke arahnya, ibu itu mencoba menutupi dukanya. Dia memalingkan wajah ke arah anaknya yang masih belum juga bisa memejamkan mata. Diambilnya sehelai kertas dan mengipas sang anak.

“Knapa ibu nangis,” tanya sang wartawan. Beberapa saat tak ada jawaban. Hening.
“maaf, Bu. Saya wartawan. Mungkin ada yang saya bisa bantu,” tawar sang wartawan.
Tetap tak ada jawaban selain isak tangis yang terdengar mulai tak tertahan karena sesak di dada kian mengumpal.

“Anak saya sakit, Pak. Dari kemarin dia panas. perutnya juga sakit. Saya tidak punya uang untuk beli obat. Saya bingung. Saya tidak punya keluarga di sini. Suami saya sudah berusaha minjam tapi teman-teman yang lain juga tak punya uang. Kami jauh dari kampung, Pak. Untuk makan saja kami hanya berharap bantuan orang lain.”
Dan tangis ibu itu pun pecah. Air matanya tak terbendung lagi. Tumpah, membuat jejak di pipinya. Semua lara termuntahkan sudah.

Ibu satu anak itu rupanya seorang transmigran. Bersama suami, anak dan sekitar 90-an warga asal Jawa Timur, sang ibu mencoba peruntungan lewat sebuah program pemerintah yakni transmigrasi. Program yang menurut pemerintah, demi peningkatan taraf hidup inilah yang membawa diri dan keluarganya ke Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan. Sebulan berlalu. Dua hari pertama dilewatinya dengan tidur beralaskan tanah beratapkan langit di tanah perjanjian, tanah yang diharapnya bisa merubah hidup keluarganya, sebidang tanah di lokasi transmigrasi di Desa Ilan Batu, Kecamatan Walenrang, Kabupaten Luwu. Penduduk lokal menolak kehadiran mereka. Tak ada pilihan lain selain mengadu. Langkah ini pula yang mengiring harapan mereka ke kantor Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Luwu.

“waktu kami ke sana, kami didatangi puluhan orang yang kami tidak kenal. Mereka mengancam kami. Saya takut, Pak. Kami tidak punya siapa-siapa di sini. Makanya kami ke kantor polisi ini untuk berlindung. Tolong kami, pak. Kami cuma mau pulang ke kampung kami di jawa.”

Tak ada lagi kekuatan yang bisa digunakan untuk menahan tangisnya. Seperti halnya dengan anak si ibu yang belum juga tertidur, wartawan itu pun kini hanya bisa terdiam. Tak ada yang bisa diperbuatnya. Lagi-lagi dia hanya bisa melihat dan mendengar tanpa mampu merubah apapun.

Bingung…yah, hanya ekspresi itu yang bisa terekam di wajah sang wartawan. Sama seperti ekspresi sang bocah yang tetap tak mengerti kenapa ibunya tak kunjung berhenti menangis.

260108
08.25 pm
Abis ngedit naskah & gambarnya son!

0 komentar: